Jumat, 2008 Juni 06

Words to Live by


1. Give God what's right -- not what's left.
2. Man's way leads to a hopeless end -- God's way leads to an endless hope.
3. A lot of kneeling will keep you in good standing.
4. He who kneels before God can stand before anyone.
5. In the sentence of life, the devil may be a comma -- but never let him be the period.
6. Don't put a question mark where God puts a period.
7. Are you wrinkled with burden? Come to the church for a face-lift.
8. When praying, don't give God instructions -- just report for duty.
9. Don't wait for six strong men to take you to church.
10. We don't change God's message -- His message changes us.
11. The church is prayer-conditioned.
12. When God ordains, He sustains.
13. WARNING: Exposure to the Son may prevent burning.
14. Plan ahead -- It wasn't raining when Noah built the ark.
15. Most people want to serve God, but only in an advisory position.
16. Suffering from truth decay? Brush up on your Bible.
17. Exercise daily -- walk with the Lord.
18. Never give the devil a ride -- he will always want to drive.
19. Nothing else ruins the truth like stretching it.
20. Compassion is difficult to give away because it keeps coming back.
21. He who angers you controls you.
22. Worry is the darkroom in which negatives can develop.
23. Give Satan an inch & he'll be a ruler.
24. Be ye fishers of men -- you catch them & He'll clean them.
25. God doesn't call the qualified, He qualifies the called.
26. Read the Bible -- It will scare the hell out of you.

PRAYER:
Father God, bless Your child reading this in whatever it is that You know he or she may be needing this day. Let him/her experience Your steadfast love and experience Your loving ways. And may Your Word protect, guide, and draw each one close to You today and forever.
Amen.

Anak Padang Gurun

pengarang : AO
Pada waktu bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan yang dijanjikan Allah. Tuhan membuat bangsa yang bebal itu berputar-putar di padang gurun supaya iman mereka semakin dimurnikan.Tapi pada akhirnya hampir sebagian besar gagal dan hanya anak-anak yang lahir dipadang gurunlah yang akhirnya menikmati negeri perjanjian yang dijanjikan oleh Allah selama ini.

Mengapa harus anak-anak yang lahir di padang gurun?

Mereka adalah generasi yang tak pernah menikmati kehidupan tanah Mesir (Mesir menggambarkan dunia). Bisa jadi orang tua mereka banyak bercerita tentang negri itu. Anak-anak itu hanya dapat membayangkan tapi tidak tahu keadaan negri itu. Sejak lahir mereka sudah terbiasa dengan kehidupan nomaden dipadang gurun yang tandus.

Sejauh mata memandang,cuma pasir, pohon kaktus. Mungkin sesekali mereka bertemu dengan oase, atau berkali-kali melihat fatamorgana, dan mereka juga sudah terbiasa hidup mengandalkan Tuhan.

Bayangkan saja, mulai dari soal makanan, minuman sampai peperangan yang dihadapi, mereka sudah terbiasa melihat otoritas Ilahi dalam diri Musa, sang pemimpin.

Jadi yang mereka tahu Cuma satu : semua karena Tuhan! Itulah anak-anak “Padang Gurun”

Secara tidak langsung mereka mengalami didikan ilahi yang cukup kuat dari Allah. Disaat anak-anak lain bermain-main dan bermanja-manja dengan orang tua mereka dengan berbagai mainan yang bagus, anak-anak “padang gurun” harus belajar taat pada otoritas.

Bayangkan, diusia anak-anak mereka sudah pandai membantu orang tuanya bongkar pasang tenda. Mereka sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki dipadang gurun yang tandus.

Tapi Tuhan tidak pernah main-main dengan umat pilihanNya. Orang-orang yang akan menikmati janji besar bukanlah orang sembarangan tapi orang orang yang harus memiliki kualitas hidup yang tinggi dihadapan Allah dan manusia, dan Allah tidak pernah menetapkan kualitas yang “biasa” dengan orang-orang pilihanNya.

Kalau dunia saja menetapkan standar tinggi untuk orang-orang pilihan, apalagi Allah.

Sudah waktunya bagi anak-anak Tuhan untuk meningkatkan diri, bukan hanya hal-hal duniawi saja, tapi juga kerohanian.

Kita harus terus maju ketingkat yang lebih tinggi lagi. Apapun yang kita hadapi dan kerjakan saat ini, kita harus yakin kalau itu adalah salah satu tahapan dan langkah kecil untuk mencapai rencana Ilahi dalam hidup kita. Bukan hanya kita saja yang mengalami proses ini, tapi semua orang! .Contoh : Sebelum menjadi raja, Daud hanya seorang penggembala domba milik ayahnya, dia memulai karirnya saat menyanggupi permintaan Saul untuk mengalahkan Goliat. Kemudian menjadi seorang pemain kecapi di istana, selanjutnya dipercayakan menjadi kepala pasukan perang, Daud tetep mengabdi sebagai bawahan Saul sampai Allah sendiri yang mengangkat dia menjadi raja Israel(dari garis keturunan Daudlah, Mesias, sang juruslamat lahir). Karakter dan kepribadiannya terbentuk sempurna lewat hubungan dekatnya dengan Allah. Manusia tidak pernah memperhitungkan dia menjadi raja Israel, tapi Allah melihat kesempurnaan pribadi Daud.

Belajarlah seperti anak-anak Israel yang sudah mandiri, bergantung pada Tuhan, selalu berserah pada kehendak Tuhan, kemana Tuhan akan membawa mereka dan terus percaya akan kemahakuasaan Allah dalam hidup mereka.

Cara agar kita tetap bisa menjaga kualitas hidup yang benar dihadapan Tuhan :

Kita harus terus memberi diri untuk bertumbuh, kita harus memiliki iman, berusaha untuk hidup stabil dihadapan Tuhan (mulailah dengan stabil membaca Firman Tuhan, stabil berdoa) dan berhubungan intim dengan Tuhan, dan terlebih lagi hiduplah didalam kebenaran dan jangan kompromi dengan dosa.
{sumber : Berbagai sumber}

Challenge Or Chance?

pengarang : J. Williams

Apa yang membedakan seorang pemenang dengan seorang pecundang? Ketika dua belas pengintai dikirim Musa untuk mengintai Tanah Perjanjian (Bilangan 13), mereka kembali dengan laporan yang berbeda. Sepuluh orang menyampaikan berita negatif dengan mengatakan bahwa negeri tersebut penuh dengan raksasa pemangsa manusia. Mereka merasa diri mereka seperti belalang yang tidak berdaya. Hanya Yosua dan Kaleb yang menyampaikan berita positif bahwa bersama Tuhan mereka bisa mengalahkan penduduk asli dan merebut Tanah Perjanjian.

Kedua belas pengintai melihat negeri yang sama. Mereka semua mengakui kesuburan Tanah Perjanjian, mereka sama-sama melihat penduduk asli negeri tersebut, tetapi mereka menyampaikan kabar yang sama sekali berbeda.

Seorang pemenang selalu melihat adanya kesempatan dalam setiap tantangan. Seorang pecundang selalu melihat masalah atau tantangan dalam setiap kesempatan.

“You don’t see what you actually see, but you see what you wanna see. If you’re a winner, you always see chances because that’s all you wanna see.”

Anda tidak melihat yang sebenarnya terlihat oleh mata jasmani Anda, tetapi Anda melihat apa yang ingin Anda lihat. Jika Anda seorang pemenang, Anda akan selalu melihat kesempatan demi kesempatan karena memang itulah yang Anda ingin lihat. Sebaliknya, jika Anda seorang pecundang, maka yang selalu Anda lihat adalah kendala, penghalang, tantangan dan alasan.

Seorang leader pernah berkata, “Kalau Anda ingin maju, jangan pernah punya alasan. Kalau Anda punya segudang alasan Anda tidak akan pernah maju.”

Ada lima D yang perlu dimiliki untuk mengubah tantangan menjadi kesempatan.

D - Desire (Keinginan)
Apakah Anda punya keinginan untuk mengalami kemajuan? Apakah Anda cukup puas dengan keadaan Anda selama ini? Alkitab mengajarkan untuk mengucap syukur dalam segala keadaan, tetapi Alkitab juga mengajarkan untuk meminta apa yang kita inginkan dari Tuhan (Yohanes 16:24). Sebelum Tuhan Yesus menyembuhkan Bartimeus yang buta, Ia bertanya “Apa yang kamu inginkan supaya Aku perbuat bagimu?” Apakah Anda punya keinginan?

D - Decision (Keputusan)
Salah satu kesulitan yang sering dihadapi banyak orang adalah masalah pengambilan keputusan. Sesungguhnya, banyak orang yang tidak berani mengambil keputusan karena tidak bersedia memikul tanggung jawab atau akibat yang mungkin timbul akibat keputusan yang diambilnya. Mereka yang maju adalah mereka yang berani mengambil keputusan, mengambil langkah awal dan keluar dari zona kenyamanan. Ketika Petrus menyatakan keinginannya untuk berjalan di atas air kepada Yesus, maka ia harus mengambil keputusan untuk mengayunkan langkah pertamanya di atas air ketika Yesus mengundangnya. Setiap keputusan selalu ada resiko, tetapi keberanian menghadapi resiko tersebut yang membuat seseorang menjadi lebih dewasa.

D - Drive (Dorongan)

Keputusan yang telah kita ambil harus diikuti dengan langkah-langkah realisasi. Jika tidak ada, tidak lebih dari sekedar berjalan di tempat. Apakah Anda sudah menetapkan langkah-langkah yang harus diambil sesuai dengan keputusan Anda? Apakah setiap hari Anda melangkah ke arah yang sudah Anda putuskan sebelumnya? Apakah setiap kegiatan Anda sudah sejalan dengan cita-cita, keinginan, atau mimpi Anda?

D - Determination (Tekad)
Setelah kita melangkah, biasanya akan timbul tantangan. Akan ada arus yang melawan arah perjalanan kita. Saat-saat seperti itu dibutuhkan tekad yang bulat untuk tetap berjalan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang memiliki tekad baja untuk tetap melangkah sekalipun ada badai yang menghadang. Ibrani 10:36 mengatakan bahwa kita “... memerlukan ketekunan....” Tekad yang kuat akan menolong kita untuk tetap tekun.

D - Discipline (Disiplin)
Selanjutnya, diperlukan disiplin untuk tetap melakukan hal-hal tertentu sekalipun daging kita menolaknya. Sebuah definisi yang bagus tentang disiplin adalah melakukan sesuatu yang perlu pada saat kita tidak ingin melakukannya. Seorang pengusaha terkenal mengatakan bahwa salah satu kunci sukses dalam usahanya adalah disiplin.

{sumber : www.freshlivingwater.blogspot.com}

Sabar dan Bodoh


Konon di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Ia memutuskan setiap perkara dengan adil, tanpa pandang bulu. Suatu hari, dua orang menghadap hakim tersebut. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya meminta keputusan atas kasus mereka yang sebenarnya sangat sepele.

Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Ternyata sang hakim memvonis hukuman cambuk 10x bagi orang yang menjawab benar. Spontan si terhukum protes.

Sang hakim menjawab, "Kamu bodoh, mau-maunya berdebat dengan orang orang bodoh yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!"
Kalau ada orang berbeda pendapat dengan kita, katakan pada diri sendiri bahwa dia belum mengerti, lalu bersabarlah. Karena kesabaran artinya membantu dia mengerti dan menyerahkan dia kepada Tuhan

Yang bisa saya ambil dari cerita ini adalah bahwa jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yang tidak berguna, artinya kita sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yang memulai perdebatan. Sebab dengan sadar kita membuang waktu dan energi untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Berlaku benar adalah sebuah pilihan. Meskipun kita tidak bisa dengan mudah mengubah perasaan kita mengenai masalah yang kita hadapi, kita masih tetap bebas untuk memilih tindakan yang benar.



{sumber : Surat kabar thailand}

Kamis, 2008 Juni 05

From Admin


akhirnya RPK ato yang kita kenal dengan Remaja Pantekosta Ketapang telah meluncurkan blognya, di blog ini di harapkan bahwa kita bakal saling nguatin, kita bisa baca2 cerita-cerita yang bakal nguatin kita tiap harinya.. ada juga nanti Firman Tuhan dari sermon Rpk, dan juga kesaksian dari orang - orang yang ditolong Tuhan dalam hidupnya.. Semoga lewat Blog dari Rpk ini hidup kalian para readers akan diberkati dan mendapat berkat tentunya..

GOD BLESS YOU readers..